MARAKNYA PENGGEMAR “K-POP SONG” DIKALANGAN REMAJA SIDOARJO
Pada era modernisasi
seperti ini, semuanya bisa dengan mudah menjadi transparan karena semakin
tipisnya batas antar negara, membuat budaya-budaya asing dapat masuk dengan
mudah di berbagai negara. Masyarakat saat ini pun dapat dikatakan sebagai
masyarakat yang aktif atau dapat memilih dan selektif ketika ingin mengkonsumsi
sesuatu yang mereka inginkan atau mereka butuhkan. Tidak terkecuali dengan
mengkonsumsi lagu-lagu maupun budaya baru yang sebelumnya belum pernah mereka
lihat ataupun dengar. Sifat masyarakat yang saat ini sangat disayangkan adala
ketika masyarakat sudah memilih suka dengan budaya baru sehingga meninggalkan
budaya aslinya. Budaya baru tersebut seperti budaya yang mampu menghipnotis
masyarakat karena keunikan ataupun berbagai hal lainnya. Budaya tersebut juga
merasuki berbagai kalangan, terutama kalangan remaja. Banyak para remaja yang
telah melupakan budaya asli negaranya dan lebih memilih budaya baru tersebut. Diantaranya
adalah maraknya budaya K-pop yang pada saat ini mengguncang dunia termasuk di
kota di Negara Indonesia ini (Sidoarjo) dan membuat budaya asli Indonesia
semakin memudar dan kemungkinan bisa ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia itu
sendiri. Kebanyakan remaja menganggap bahwa budaya asli tersebut kuno atau
ketinggalan zaman, maka dari itu banyak yang meninggalkannya. Bahkan sekarang
kita sangat jarang menjumpai masyarakat yang melestarikan dan mempelajari
budaya asli Indonesia. Padahal seharusnya budaya Indonesia juga perlu dijaga
dan dilestarikan oleh masyarakat pribumi itu sendiri. Berkembangnya K-pop di
beberapa negara Asia Tenggara termasuk Indonesia dan di negara-negara Asia
Timur menunjukkan adanya transformasi budaya asing ke negara lain.
Berkembangnya budaya K-pop di Indonesia juga dibuktikan dengan adanya AFC
(Asian Fans Club) yang merupakan blog Indonesia yang berisi tentang berita
dunia hiburan Korea. AFC ini didirikan oleh seorang remaja bernama Santi Ela
Sari pada tanggal 1 Agustus 2009. Pada konsep budaya, budaya popular yang
dibawa Korea berada dalam dimensi konkret yang terwujud didalam artefak-artefak
budaya seperti K-pop Song, drama, film, musik, program televisi, makanan dan
Bahasa. Sedangkan dimensi abstrak yang berupa nilai, norma, kepercayaan,
tradisi, makna, terkandung secara tidak langsung dalam artefak budaya tersebut.
Berkembangnya budaya K-pop Song atau K-wave di Indonesia merupakan perwujudan
globalisasi dalam dimensi komunikasi dan budaya Banyak sekali remaja Sidoarjo yang
menggemari musik Korea atau yang biasa disebut K-Pop. Hal ini ditunjukkan oleh
semakin banyak juga yang mengcover lagu boyband dan girlband Korea di Indonesia
pada tahun 2014 - 2020 ini.
Korea merupakan salah satu contoh sukses eksportir program televisi,
khususnya di wilayah Asia yang bahkan mulai merambah ke daerah Eropa dan
Amerika. Tidak dapat dipungkiri, Korea pada abad 21 dapat dikatakan berhasil
menjadi saingan berat Hollywood dan Bollywood dalam melebarkan sayap budayanya
ke dunia internasional melalui tayangan hiburan seperti film, drama dan musik
yang bernuansa Asia. Budaya pop Korea dengan segala kemajuan yang dialaminya
tetap mengemas nilai-nilai Asia di dalamnya. Hal inilah yang menjadi daya tarik
tersendiri, terutama bagi masyarakat Asia yang merasa ada kedekatan saat
menyaksikannya. Di dalam wilayah yang telah lama didominasi oleh budaya populer
dari Hollywood, budaya pop dari Seoul ini menjadi fenomena yang unik serta
mengejutkan bagi dunia. Para jurnalis dan media dari berbagai negara kini ramai
membicarakan fenomena ini. Memang tidak terduga, Korea Selatan yang pada dua
dasawarsa lalu tidak berpengaruh dalam bidang industri budaya, sekarang populer
dan bahkan posisinya sangat maju dalam bidang tersebut dan kini telah berhasil
menjadi salah satu negara cultural exporter di Asia. Korea telah menjadi
sebuah negara dengan industri budaya yang kuat dan mampu mengekspor
produk-produk budaya populernya ke luar negeri dan menyebarkan pengaruh
kultural. Kita bisa mengakses konten-konten budaya “K-Pop Song” seperti musik,
musik video, drama televisi, dan acara varietas, remaja di kota Sidoarjo
menggunakan media televisi dan media sosial, tetapi penggunaan media sosial
lebih banyak dibandingkan dengan media televisi. Selain itu, media sosial juga
dimanfaatkan oleh remaja Sidoarjo untuk mencari informasi terbaru seputar idola
favoritnya serta untuk berhubungan dengan sesama penggemar budaya “K-Pop Song”.
Intensitas penggunaan media sosial untuk mencari konten budaya “K-Pop Song”
sangat tinggi di kalangan remaja Sidoarjo, yang mempengaruhi sikap dan perilaku
dalam berbagai macam fenomena seperti mengoleksi CD album, aksesoris, merchandise, yang
berhubungan dengan idolanya, menabung untuk membeli tiket konser, mengubah gaya
hidup, juga mengakses konten-konten dewasa.
Komentar
Posting Komentar